Kordylewski Clouds


Kordylewski clouds adalah sekumpulan debu-debu (awan) terkonsentrasi yang kemungkinan berada di titik Lagrange L4 dan L5 pada system Bumi-Bulan. Keberadaannya pertama kali diungkapkan oleh astronom Polandia, Kazimierz Kordylewsky, pada tahun 1960. Namun keberadaan awan atau debu ini masih menjadi kontroversi apakah memang benar – benar ada atau tidak, karena kondisinya yang sangat redup sehingga sulit untuk diamati atau diteliti. Kemudian ada yang berpendapat bahwa kemungkinan keberadaan awan ini hanya sementara dikarenakan L4 dan L5 tidak stabil oleh gangguan planet-planet dalam.

Penemuan dan Pengamatan
Secara fotometri, keberadaan konsentrasi debu pada titik liberasi, telah diprediksi oleh Professor J. Witkowski pada tahun 1951.
Awan ini pertama kali dilihat oleh Kordylewski pada tahun 1956. Antara 6 Maret dan 6 April, 1961 ia berhasil memotret dua daerah terang di dekat titik Librasi L5. Selama waktu pengamatan , hampir tidak tampak bergerak relatif terhadap L5. Pengamatan dilakukan di gunung Kasprowy Wierch.

Pada tahun 1967, J. Wesley Simpson melakukan pengamatan pada awan ini menggunakan observatorium Kuiper Airborne

Keberadaan awan Kordylewski masih dalam sengketa. Pesawat luar angkasa Jepang, Hiten, yang melewati daerah titik liberasi, tidak menemukan perbedaan yang nyata atas kepadatan debu pada titik liberasi dengan daerah yang lain.

Kenampakan
Awan kordylewski merupakan fenomena yang sangat redup. Mereka sangat sulit diamati dari bumi, tetapi mungkin dapat dilihat dengan mata telanjang dalam keadaan langit malam yang sangat gelap dan cerah. Mereka tampak cemerlang ketika berhadapan dengan Matahari. Kebanyakan pengamatan mengklaim telah dilakukan dari padang pasir, di laut, atau dari pegunungan. Awan tampak agak merah daripada Gegenschein, yang hal ini menunjukkan bahwa mereka mungkin terbuat dari partikel berbeda.

Sumber : http://www.absoluteastronomy.com/topics/Kordylewski_cloud

Hunting Bulan Purnama 1 Desember


Tanggal 1 Desember 2009 akan bulan purnama. Bagi yang mau hunting, harus di siapkan jauh – jauh sebelumnya. beberapa hal yang mungkin perlu disiapkan yang pertama tentu saja peralatan dan perlengkapan; kedua waktu, karena kondisi yang tepat untuk shoot mungkin terbatas, yaitu ketika distribusi kecerahan antara objek dengan background dan foreground tidak terlalu kontras; ketiga adalah spot tembak, yaitu lokasi dimana obyek, yaitu si bulan bisa masuk dalam frame dengan foreground yang menarik. hal ini perlu di survey terlebih dahulu; kelima yaitu azimut obyek. hal ini perlu disiapkan untuk menentukan spot tembak yang bagus.

The Origin of The Universe

Alam semesta mulai ada sejak big bang yaitu sekitar 13,7 milyar tahun yang lalu. Sejak saat itu alam semesta mulai mengembang dan mendingin dari waktu ke waktu. Alam semesta berevolusi dari partikel elementer yang tidak berbentuk menjadi elemen yang sangat kaya sekarang ini seperti neutron dan proton, inti atom , atom, bintang, galaksi, gugus galaksi dan super cluster. Galaksi –galaksi sendiri juga terikat grafitasi oleh dark matter dan pengembangan alam semesta juga seakan akan dikontrol oleh dark energy sehingga pengembangan alam semesta tidak dipercepat semakin cepat.
Di Mount Wilson,1924, Edwin Hubble mengamati galaksi-galaksi yang bergerak saling menjauh satu sama lain. Pergerakan ini membentuk pola tertentu yang secara matematis telah kita kenal sekarang sebagai hukum Hubble, yang menyatakan semakin jauh, galaksi bergerak semakin cepat. jika sekenario ini kita putar balik, maka akan kita dapatkan titik waktu dimana big bang terjadi yaitu 13,7 milyar tahun yang lalu.
semua yang ada di alam semesta juga ikut mengembang. Ruang dan maktu mengembang seperti balon yang ditiup, galaksi bergerak saling menjauhi dan panjang gelombang cahaya juga memanjang sehingga berubah ke frekuensi rendah (redshift). Pergeseran ini semakin besar seiring berjalannya waktu. Semakin besar redshift, semakin jauh obyek yang kita amati. Jika ingin mengamati obyek yang semakin jauh dan tua, maka kita harus mengamati gelombang infra merah dan radio. Dengan teleskop yang akan dibangun seperti James Webb Space Telescope, teleskop infra merah 6,5-meter, dan Atacama Large Millimeter Array (ALMA), jaringan antenna parabola radio di sebelah utara Chili, akan membantu kita melihat masa – masa kelahiran bintang dan galaksi.
Berdasarkan simulasi computer, bintang dan galaksi muncul setelah 100 juta tahun. Sebelum itu, alam semesta mengalami masa yang disebut “dark ages”, dimana semuanya hampir hitam pekat. Alam hanya diisi oleh “lumpur” yang tidak menarik, dark matter, helium, hydrogen, yang semakin mnipis seiring berkembangnya alam semesta. Grafitasi membuat ditribusi materi tidak merata sehingga sebagian menggerombol dan collapse membentuk bintang. Bintang jaman dahulu sangat massive sampai ribuan massa matahari. Karna sangat besar sehingga umurnya pendek dan meledak meninggalkan elemen – elemen yang lebih berat. Terbentuk bintang lagi dan gaya grfitasi menarik jutaan awan-awan ini menjadi galaksi.
Sisa – sisa dari dark ages yang bias kita amati yaitu cahaya lemah big bang yang telah bergeser dengan redsihf 1.100. radiasi ini mengalami redshift dari cahaya tampak ke infra merah dan gelombang mikro. Radiasi ini memenuhi seluruh alam semesta yang disebut osmic Microwave Background (CMB) yang telah ditemukan pada tahun 1964 oleh Arno Penzias dan Robert Wilson. Radiasi ini menunjukkan pandangan sekilas alam semesta pada umur 380.000 tahun, periode dimana atom mulai terbentuk. Sebelum itu, alam semesta mendekati seragam berupa soup inti atom, proton, dan electron. Sebagai akibat pendinginan sampai 3.000 kelcin, inti dan electron membentuk atom.

Explore Our Universe