Menghidupkan Kembali Kamera DSLR Sony A200

Kamera saya ini sudah lama mati suri. Sejak sekitar tahun 2020 an, kamera ini ngandang. Penyebabnya adalah adanya kerusakan pada fokus lensa Kit bawaannya, lensa DT 18-70, sehingga fokus tidak bisa diatur sama sekali. Ulir fokusnya macet, jadi tidak bisa diputar, baik secara manual ataupun otomatis dari kamera.

Sebelum tahun 2020-an itu sebenarnya saya juga sudah jarang pakai, karena sejak tahun 2012 an praktis kebutuhan kamera sudah tercukupi di HP. Kemudian pada suatu waktu ada kebutuhan memotret dengan kualitas yang lebih baik. Tanpa saya sadari kamera dipegang oleh anak – anak yang belum seharusnya memegang kamera DSLR ini. Sepertinya ring ulir fokus diputar secara paksa sehingga gerigi didalamnya mungkin rampal. Sehingga sejak saat itu fokus tidak berfungsi, baik secara auto maupun manual.

Hingga beberapa waktu lalu ada kebutuhan dokumentasi. Baru kepikiran untuk menyelamatkan kembali kamera ini. Karena lama tidak dipakai jadi dalam body kameranya mulai ada jamur hingga ke mirror dan sensor. Jadi saya bawa ke tukang service untuk coba membetulkan lensa dan membersihkan jamur.

Lensa ternyata tidak terselamatkan karena katanya sparepart sudah jarang untuk barang lama ini. Lagipula saya pikir ongkos membetulkan dan effortnya tidak sebanding dengan harganya, soalnya ini lensa kit. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya saya merelakan lensa tersebut dan menggantinya dengan lensa yang ada di tempat service.

Saya memilih lensa fix 50mm f/1.8 sebagai pengganti. Selain karena ketersediaan, saya juga ingin upgrade ke apperture yang lebih lebar, sehingga didapatkan kualitas bokeh dan penangkapan cahaya yang lebih lebar. Walupun kekurangannya opsi zoom jadi tidak ada dan fov terbatas.

Jun, 2026.

Buat Jaringan Internet Antar Kantor Dengan Point to Point

Sudah lama saya berfikir, bagaimana menghubungkan jaringan internet dari lokasi B ke lokasi A yang memiliki jarak sekitar 150 meter. Jalur internet utama ada di lokasi A dan saya ingin agar lokasi B punya akses internet melalui jaringan di lokasi A. Sementara ini saya hanya menggunakan router 4G dari TP-link sebagai akses internet di lokasi B.

Saya melakukan explorasi sekenario dan perangkat. Kemudian saya melihat review di youtube untuk mencari case yang sama. Konsultasi dengan AI juga saya lakukan untuk melihat solusi dan menambah wawasan skenari dari sudut pandang yang berbeda. Dari berbagai opsi perangkat dan skenario, saya memutuskan untuk menggunakan metode Point to Point menggunakan Totolink CP300.

Sambil menunggu barang datang, saya mencari spot dimana perangkat akan saya pasang diatas atap. Saya naik ke tempat toren air dan memasang HP di tongkat tongsis untuk melihat pandangan yang lebih luas. Saya berharap mendapat LOS atau Line of Sight yang tidak terhalang oleh apapun. Dari sini saya menemukan spot yang rasanya bisa dipertimbangkan dan dicoba, walaupun tidak free dari penghalang, tapi masih kelihatan disela-sela ranting pohon.

Lokasi A – Mode Access Point

Setelah Totolink CP300 datang, saya langsung melakukan uji coba. Dua perangkat saya nyalakan dan saling terhubung satu sama lain. Setelah saya yakin dengan skenario setup, saya naik ke area toren dan pasang satu Totolink CP300 di lokasi A dengan mode Access Point. Saya pasang di titik yang sudah saya tentukan sebelumnya dan saya hadapkan ke arah lokasi B.

Lokasi B – Mode Client

Selanjutnya di lokasi B, saya pasang Totolink CP300 juga dengan lokasi diatas teras dan menghadap ke lokasi A ke arah dimana Access Point dipasang. Sebelumnya sudah saya setting pengaturannya sehingga ketika diatas, langsung sat-set pasang dan atur pengkabelan dibawah. Nyalakan PoE dan cek halaman website pengaturan, didapatlah kekuatan sinyal 90 persen keatas. Kecepatan internet juga tidak jauh beda dengan lokasi A. Terus terang sangat puas dengan eksperimen ini dan saya putuskan untuk setup tempat kerja di lokasi B.

Mon, Dec 29, 2025

Membaca Banyak Modul PZEM-016 dan PZEM-017 dengan RS485

Tulisan ini sebenarnya adalah latepost lagi dari yang seharusnya saya tulis di pertengahan Agustus, tapi baru sempat saya tulis sekarang.

Pada tulisan sebelumnya kita cerita tentang membaca data dari Pzem dengan protokol RS485. Kali ini, kita akan bahas membaca banyak modul Pzem dengan protokol komunikasi RS485 dengan satu mikrokontroller ESP Wemos D1 Mini.

Secara umum, port RS485 yang biasa ditulis dengan tanda A dan B pada setiap device dihubungkan secara paralel dan disambung juga ke mikrokontroller melewati modul RS485 to TTL converter. Model topologi koneksinya yaitu daisy -chain, dimana di ujung awal adalah mikrokontroller sebagai master dan semua device sebagai slave.

Tiap – tiap device harus diberikan address yang berbeda sebagai identitas yang akan dibaca oleh ESP. Setelah ESP tau identitas masing-masing device, esp bisa membaca dan mengolah data untuk diteruskan atau sebagai input ke sistem lain yang lebih besar, tergantung skenario yang sudah dibuat.

Kira-kira seperti itu ide atau konsep membaca multiple devices dengan protokol komunikasi RS485, tidak hanya Pzem, tapi bisa juga device yang lain.

Fri, 12 Dec 25

Nyobain Shinobi dan Frigate

Beberapa hari terakhir ini saya sedang explore perangkat server untuk menggantikan server raspi dan pc tua yang mulai terasa kewalahan. Pilihan mulai dari mini pc second seperti lenovo thinkcenter sampai server xeon lawas. setiap pilihan berimplikasi dengan desain server yang akan dipasang.

Awalnya sempet mau pakai mini pc karena murah, simpel, daya listrik kecil, wah cocok ini saya pikir. Tapi kemudian saya teringat kalau saya butuh slot untuk hdd 3.5 in yang akan dipakai buat storage media dan cctv. Akhirnya pilihan ini saya tunda dan mencoba eksplore pc biasa dan juga xeon.

Belum selesai explore hardware, saya secara paralel mengexplore dari sisi software. Saya petakan dan coba software mana yang nanti akan menggantikan sistem yang sudah ada. Salah satu sistemnya yaitu cctv. Sempet beberapa muncul di beranda tentang instalasi NVR untuk cctv tanpa perangkat khusus NVR. System ini pakai software NVR yang dipasang di PC biasa sehingga bisa dijadikan NVR seperti layaknya perngkat NVR.

Ada dua yang sudah sempet saya coba yaitu Shinobi dan Frigate. Dari referensi sih dua-duanya bisa dipakai untuk NVR dan masing-masing punya kelebihan sendiri. Secara umum Frigate lebih kuat di bidang AI dan Shinobi lebih unggul di fleksibilitas dan kompleksitas NVR.

Dari sisi penambahan kamera dan konfigurasi masing-masing punya pendekatan sendiri. Untuk Frigate, konfigurasi penambahan kamera dan semua hal yang mengikutinya dilakukan di file yml, sedangkan untuk Shinobi bisa dilakukan di GUI berbasis web.

Saat mencoba menjalankan Frigate, CPU bekerja sangat keras. Bahkan kipas CPU sampai meraung-raung berputar kencang. Saya amati memang sepertinya dari proses AI yang berjalan secara realtime mendeteksi dan menganalisa gambar-gambar dari berbagai kamera memakan processing power yang besar sekali. Ini tentu menjadi perhatian khusus karena daya juga pasti makan besar.

Untuk shinobi sepertinya lebih sederhana dari sisi AI fiturnya, tetapi lebih banyak pengaturan seperti layaknya NVR perangkat pada umumnya tetapi lebih kompleks. Penggunaan CPU dan kipas juga tidak sampai meraung-raung. Hanya saja, pengaturan yang kompleks ini membutuhkan waktu tambahan untuk mempelajarinya.

Ini kira-kira impresi pertama saya mencoba keduanya. Dan oh iya, keduanya saya jalankan dalam lingkungan terkontainerisasi menggunakan Docker. Tinggal nanti selanjutnya ntah explore yang mana lagi sebelum memutuskan upgrade server kemana jadinya….

Thu, 11 Des 2025

Membuat Modul IoT Membaca Banyak Device dengan RS485

Postingan ini sebenarnya sudah ada judulnya dari beberapa bulan lalu, tapi baru sempet menulis isinya sekarang. Saat itu, sistem PLTS saya baru ada inverter dan baterai, belum ada panel surya, sehingga saya fokus pada komponen IoT-nya dulu.

Saya sudah membuat desain jalur kabel dan flow arusnya. Mulai dari string panel surya yang sudah saya persiapkan menjadi dua string, sampai arah inverter dan baterai. Tiap titik bagian sudah saya rencanakan akan dipasang sensor untuk mengetahui parameter yang akan saya ukur. Salah satu parameter misalnya voltase dan energi dari baterai ke inverter. Ini sudah bisa saya implementasikan sebelum menunggu panel surya terpasang.

Pada tahap awal ini, saya akan memasang 4 sensor, dua untuk memantau arus DC dan dua lagi untuk memantau arus AC. Dua arus DC adalah dari SCC ke inverter serta baterai dan satu lagi dari baterai dan SCC ke inverter. Dua sensor ini untuk memantau berapa banyak energi yang dipanen dari SCC dan berapa besar energi yang terpakai. Sedangkan untuk arus AC, saya memasang sensor untuk arus dari PLN dan satu lagi untuk memantau arus keluaran dari Inverter. Ini untuk memantau berapa besar energi PLN dan PLTS yang terpakai.

Saya menggunakan PZEM016 dan PZEM017. Dua alat ini memiliki interface RS485 sehingga saya membutuhkan modul RS485. Untuk modul kontrolernya saya menggunakan ESP dari keluarga ESP8266 yaitu ESP Wemos D1 Mini. Saya berencana membuat satu modul ini untuk memantau banyak device RS485.

Sat, 29 Nov 2025