Category Archives: Knowledge Management

Web Font

Dalam desain web, saya sebenarnya gak terlalu peduli dengan jenis font di website. Yang penting bisa dibaca dengan mudah sudah cukup. Tetapi untuk orang lain bisa jadi font adalah hal yang penting dalam tampilan web.

Karena satu lain hal harus merubah font, akhirnya saya harus mencari font-font yang bisa dipasang di website tanpa harus bayar alisa gratis.

Salah satu sumber font gratis adalah google font, yaitu di https://fonts.google.com . Disana ada banyak jenis font yang bisa digunakan untuk website secara gratis. Tinggal pilih font yang diinginkan dan dimasukkan ke dalam css.

Cara pilihnya tinggal click plus sign dan disana ada cara untuk menggunakannya. Namun agar bisa menggunakan css @font-face , kita buka alamatya, misalnya https://fonts.googleapis.com/css?family=Open+Sans  di browser dan copy paste ke css kita.

Setelah itu tinggal panggil nama font-nya di css kita. That’s it.

Keunggulan Drupal yang Saya Suka

Sudah dua kali saya menggunakan Drupal sebagai CMS untuk menghandle informasi yang ingin disebarkan ke orang banyak. Dari pengalaman ini, ada satu ciri khas Drupal yang saya suka karna sangat  membantu dan memudahkan pengelolaan isi dari suatu website, yaitu “Field”.

Dari kemampuan Field ini, kita bisa membuat berbagai jenis konten dengan berbagai jenis infomasi masing-masing. Misalnya kita ingin menampilkan jenis konten downloadable file yang bisa di urutkan dan dikelompokkan sesuai dengan paramater yang kita inginkan, maka kita bisa buat field berdasarkan parameter tersebut. Kita juga bisa membuat field sebanyak yang kita perlukan.

Tampilan pada halaman juga bisa kita atur berdasarkan parameter yang telah kita buat dalam Field. Misalnya sesuai contoh diatas, kita bisa tampilkan dalam bentuk tabel secara otomatis terurut dan bisa disesuaikan dengan parameter yang telah dibuat sebelumnya.

Contoh diatas adalah satu contoh fasilitas Drupal yang memberikan banyak kemudahan dalam mengatur konten dalam suatu website. Selain itu ada modul tambahan yang bisa kita gunakan untuk meng-custom Drupal sesuai dengan website yang kita inginkan secara system terintegrasi.

Memang benar kata orang kalau Drupal adalah Sistem Manajemen Konten yang paling banyak bisa di Custom.

Dropbox Pro atau Amazon Glacier

Dropbox
Dropbox

Saya pernah menyebut harga Dropbox yang mahal dibanding Amazon Glacier di tulisan saya sebelumnya soal Mencoba Amazon Web Service EC2, S3, dan Glacier. Disitu saya menyebut kalau harga Amazon Glacier lebih murah dari Dropbox Pro.

Saya baru ingat ketika saya membuka kembali Dropbox Pro untuk pengguna personal satu account, Dropbox telah memberikan kapasitas 10 kali lebih besar dari kapasitas penyimpanan sebelumnya tanpa meningkatkan harganya. Jadi sekarang dengan harga sekitar 1 juta-an per tahun, kita bisa menyimpan data kita di Dropbox hingga 1TB. Setidaknya itu yang di janjikan Dropbox.

Harga Dropbox diatas kira-kira hampir sama dengan Amazon Glacier dengan kapasitas yang sama,bahkan bisa jadi lebih murah. Masalah kemudahan juga Dropbox memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses data, karena datanya juga tersimpan lokal di device kita, jadi setiap kita buka file tidak perlu download lagi.

Sepertinya memang Dropbox sedang berkompetisi dengan para penyedia layanan penyimpanan cloud dengan para pemain yang lain yang semakin menjamur. Ada mozy, azzure, dll. Walaupun Dropbox sendiri juga menyimpan datanya di fasilitas milik Amazon.

Cuma, saya pikir, masalah utama dari teknologi penyimpanan cloud public seperti Dropbox, Amazon, Mozy, Azzure, dan yang lainnya adalah infrastruktur koneksi internet. Kalau koneksi internet lambat ya manfaat cloud kurang optimal. Mungkin bisa jadi malah menghambat produktifitas karna filenya belum synchronize, atau downloadnya belum selesai.

 

Mencoba Amazon Web Service EC2, S3, dan Glacier

Amazon Web Services
Amazon Web Services

Amazone Web Service (AWS) benar-benar memberikan segala layanan yang dibutuhkan oleh dunia digital sekarang ini. Semua layanan cloud disediakan dengan luar biasa lengkap oleh AWS. Mulai dengan layanan virtual server dengan pilihan berbagai sistem operasi hingga penyimpanan awan atau cloud storage yang besar dan terpercaya.

Semua layanan menawarkan harga yang fleksibel sesuai penggunaan. Jika kita hanya menggunakan sumber daya yang kecil, kita juga akan membayar dengan harga yang kecil juga. Inilah yang membedakan dengan menyewa infrastruktur tersendiri. Kalau kita sewa atau membangun infrastruktur sendiri, kita harus mengeluarkan biaya sebesar harga infrastruktur yang mahal. Kalau kita akan upgrade, investasinya juga sangat mahal.

Dalam kesmpatan ini saya mencoba EC2 sebagai server virtual, Amazon S3 sebagai penyimpanan berbasis awan, dan Amazon Glacier sebagai backup.

Amazon S3 memberikan space yang besar dan fleksibilitas untuk menyimpan dan mengambil. Untuk 100 GB harganya sekitar $39,6 atau sekitar Rp. 450.000,- per tahun. Kira-kira setangah dari biaya Dropbox.

Untuk Amazon Glacier, karena tujuannya untuk backup, jadi didesain untuk tidak sering diakses. Salah satu keuntungannya adalah harganya yang murah. Bayangkan untuk backup dengan kapasitas penyimpanan 100 GB, kita hanya membayar $1  per bulan atau $12 per tahun. Bandingkan dengna layanan dropbox yang harganya $99 per tahun.

Untuk storage ini kalahnya dari dropbox adalah kurang user friendly. Jika digunakan sehari-hari akan lebih mudah memakai dropbox. Sedangkan untuk backup jangka panjang atau beberapa tahun ke depan, kita bisa memakai Amazon S3 atau Amazone Glacier.

Membludaknya Informasi Di Internet

Pada kondisi sekarang ini, informasi sangat banyak sekali. informasi sekarang sangat membludak. tantangan yang terjadi pada zaman sekarang ini bukan lagi kekurangan informasi, tetapi kebanyakan informasi yang beredar. Informasi yang beredarpun bisa jadi informasi yang benar bahkan bisa jadi informasi yang tidak benar. Informasi ini bisa bercampur baur menjadi satu.

Buat informasi yang bercampur antara yang benar dan tidak benar, tantangan kita adalah memfilter mana informasi yang benar dan tidak. salah satu cara adalah saling cross cek dengan sumber informasi yang satu dengan yang lain. karna banyaknya informasi yang beredar, kita bisa mencari berbagai sumber informasi untuk satu jenis informasi yang sama yang kita terima.

Sedangkan untuk informasi yang benar, bukan berarti tidak ada tantangan. Tantangan selanjutnya adalah membuat trend dari informasi tersebut untuk membuat suatu kesimpulan. Selain itu, informasi yang kita olah-pun bisa jadi terus menerus terbarui dari waktu-kewaktu. Bisa jadi kita belum selesai mencerna infomasi yang satu, sudah datang lagi informasi yang lain. jadi kecepatan mengolah ini melawan datangya data yang baru bisa menjadi tantangan tersendiri.

Menurut informasi yang saya cuplik dari computerworld, yang dicuplik dari hasil penelitian di University of Southern California, manusia sudah menyimpan data sebanyak 295.000.000 GB sejak 1986 hingga 2007. Masih dari situs yang sama, para ilmuan juga menyimpulkan bahwa tahun 2002 bisa dianggap sebagai tahun dimulainya era digital (digital age)yang ditandai dengan total kapasitas penyimpanan digital telah melebihi tingkat kapasitas penyimpanan data analog yang ada di seluruh dunia. Tentunya dengan berbagai kondisi yang telah diketahui sebelumnya.

Nah, bagaimana dengan kondisi data dimasa kini dan masa datang?. Saya mendapat infographic yang menarik dari dari blog cisco. Didalam artikel berjudul “The Dawn of The Zettabyte Era [Infographic]” secara umum menjelaskan volume data yang ada sekarang dan yang akan datang. Berikut informasinya:

sumber: http://blogs.cisco.com/news/the-dawn-of-the-zettabyte-era-infographic/
sumber: http://blogs.cisco.com/news/the-dawn-of-the-zettabyte-era-infographic/

Suasana pilpress sekarang ini, dari sudut pandang terentu juga ada nilai positifnya terhadap sikap masyarakat indonesia, terutama masyarakat digital indonesia. Masyarakat menjadi lebih aware untuk bicara berdasarkan data (bukan berarti sebelumnya tidak aware). terlepas dari benar atau tidaknya data yang dipakai sebagai ‘senjata’. ditambah lagi kebiasaan membagikan informasi dari sumber yang kurang bisa kredibel. Di zaman digital ini semua orang bisa membuat konten digitalnya masing-masing termasuk konten dalam blog ini.

Dalam menanggapi survey juga, tampaknya beberapa bagian dari masyarakat kita belum terlalu memperhitungkan metode atau kondisi atau asumsi yang digunakan dalam mengumpulkan dan menyimpulkan kumpulan data. hal ini terlihat dari mati-matiannya mereka dalam membela kesimpulan pengolahan data yang didapat tanpa melihat detail metode dan kondisi yang dipakai dan tingkat kesalahan yang digunakan. belum lagi masalah benar tidaknya pengambilan data yang dilakukan.

sepertinya kedepan, cara memaknai kumpulan data, khususnya data aktifitas sosial akan menjadi peluang dan tantangan tersendiri. generasi kedepan bisa memanfaatkan celah ini untuk berperan dan berkontribusi.