“Ibadah sholat itu jangan dilihat dari bentuknya, tapi lihatlah Siapa Yang Memerintahkannya” – dikutip dari pengajian Al-Hikam oleh KH. Imron Jamil, Jombang
Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci sebagai pedoman hidup. Fenomena ini telah disebut dalam Al-Qur’an 15 abad yang lalu, sementara ilmu pengetahuan modern baru mengungkapnya secara ilmiah pada abad ke-20. Berikut sebuah tulisan tentang fenomena alam yang telah disebut dalam Al-Qur’an. Semoga bisa menambah kepercayaan kita kepada Al-Qur’an (Rukun iman ke-3, Iman kepada kitab suci Al-Qur’an).
Mau posting gak jadi mulu…
Udah beberapa kali mau nulis sesuatu gak jadi jadi… Biasanya karna tulisan yang mau ditulis itu memerlukan referensi yang harus dibaca dulu. Kalau nulis macam gini kan asal nulis aja apa yang ada di kepala.
Ada beberapa topik yang akan aku tulis tapi tertunda mulu, sampai udah basi. Diantaranya adalah waktu tahun 2011 kan pertama kali saya naik pesawat, nah saya pingin nulis pengalaman naik pesawat pertama, dimana setelah naik pertama itu, saya langsung diminta atau ada pekerjaan yang mengharuskan naik pesawat sampai tiga kali bolak-balik dalam satu bulan, yaitu pas bulan ramadhan. Jaraknyapun lumayan jauh, sampai ke luar pulau dan itu pertama kali saya ke luar pulau. Tapi gak jadi ditulis, sebenarnya ini gak perlu referensi sih…
Kedua mau nulis tentang Astronomy and Climate Change. Nah, karna background study formal saya di astronomy dan sekarang bekerja di bidang Climate Change, jadi saya pengen nulis tentang tema ini. Sudah ada yang pernah nulis tentang ini dan di publish di media yang cukup terkenal, dan memang astronomy itu ya mempelajari alam semesta dalam sistem yang lebih luas dimana bumi, yang menjadi obyek kajian dalam climate change yang lagi hangat, adalah bagian dari sistem alam semesta itu sendiri. Ini juga belum rampung dan belum jadi ditulis, karena baca referensinya aja masih kurang.
Ketiga mau nulis apa ya… jadi lupa…
Mantab sekali, sudah dicoba dan berhasil
Experimen Biogas Yang Tertunda.
Tadi sore duduk di ruang tamu entah awalnya dari mana, jadi teringat tentang experimen biogas yang dulu pernah direncanakan dan kerjakan pada masa SMA bersama teman saya. Saya dan teman saya kebetulan satu MTs di Ngronggo dan satu SMA di barat sungai brantas kediri. Kita sama-sama tinggal di pondok pesantren Al-Islah dan sama-sama suka sering pulang ke rumah kalau weekend. Yang namanya mondok disini itu ya jarang pulang. Mungkin pulang sekali setahun pas lebaran. Tapi bagi kami, hari sabtu adalah hari yang ditunggu-tunggu untuk pulang ke rumah. Alasannya sepele, kangen tidur dan masakan di rumah. Dan hari minggu malam adalah waktu yang paling tidak mengenakkan karena besok harus kembali sekolah dan kembali ke pondok.
Ok, kembali ke biogas. Ya…, kita sering ngobrol di selasar masjid atau kamar Al-Munawwaroh sekedar membicarakan rencana-rencana besar yang akan kita kerjakan. Seolah-olah kita akan menyelesaikan permasalahan energi nasional. Kita melihat ada bagan biogas di buku pelajaran. Kita berencana untuk membuat seperti di buku itu. Waktu itu, internet tidak semarak sekarang. Headphone punĀ kita belum punya.
Kebetulan dia atau tetangganya punya ternak sapi sehingga kebutuhan kotoran ternak tidak jadi masalah. Kita kemudian merencanakan waktu untuk mulai mengeksekusi rencana ini. Saya berencana menginap di rumahnya pada waktu itu. Sorenya kita lamgsung mengumpulkan kotoran dan mencari enceng gondok di sungai sekitar persawahan. Sepulang mencari bahan, badan saya agak gak enak, dan tiba-tiba saya mutah. Waktu itu di belakang/samping rumahnya. Saya ingat waktu itu percobaan dilanjutkan sebentar sampai proses dimana bahan-bahan dicampur dan dibiarkan selama beberapa hari dalam kondisi tertutup.
Sampai tahap ini, kota tidak pernah menengok lagi seember ‘adonan’ kotoran yang kita tinggalkan itu. Pastinya udah dibuang. Klopun masih ada paling sudah beralih fungsi jadi pupuk kompos/tanah.