Category Archives: Astronomi

Practical Astronomy : Menghitung Julian Day

Berikut adalah seri postingan tentang astronomi praktis. Seri ini memiliki tujuan akhir yaitu membuat class Java yang berisi perhitungan-perhitungan dari buku Practical Astronomy with your calculator or spreadsheet 4th Edition by Peter Duffett and Jonathan Zwart.

Kali ini menghitung Julian Day dari kalender gregorian day.

Untuk testing code diatas bisa menggunakan java compiler dan executor disini https://www.compilejava.net/

Release app: Astroquiz – Game kuis bertemakan Astronomi berbahasa Indonesia

Aplikasi yang telah dirilis oleh Waluku Studio kali ini tentang permainan kuis. Tema yang dipilih adalah tentang Astronomi.

Materi kuis terdiri dari berbagai topik dalam Astronomi seperti Bintang, Kosmologi, Tata Surya, hingga Astronomi Populer. Pengguna tinggal pilih topik mana yang ingin dimainkan.

Jumlah pertanyaan yang ada sampai tulisan ini dibuat ada sekitar 60 pertanyaan. Jumlah pertanyaan ini akan terus bertambah dan pengguna tidak perlu install ulang aplikasi, karena pertanyaan akan tersinkronisasi secara otomatis dengan server. Oleh karena itu, dibutuhkan koneksi internet ketika membuka aplikasi untuk sinkronisasi pertanyaan kuis.

Selain menjawab pertanyaan pada kuis, kita juga bisa mendapat wawasan baru tentang Astronomi. Beberapa pertanyaan kuis memiliki penjelasan tentang jawaban yang benar.

Beberapa pertanyaan kuis mungkin sangat populer karena sering ditanyakan tiap tahun karena terkait dengan berita hoax yang beredar di masyarakat.

Bagi yang tertarik untuk mencoba bisa langsung ke link google play berikut:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.walukustudio.astroquiz

Ada Teleskop Radio di X-Men: First Class

Kemaren saya baru nonton film X-Men: First Class di tv cable. Saya gak tau ini  X-Men yang ke berapa, tapi dari cerita di film-nya sepertinya ini yang pertama atau paling tidak yang awal dari film X-Men yang baru rilis beberapa bulan yang lalu.

Disitu ada scene dimana Erik berlatih untuk menggerakkan besi dari jarak jauh. Besi tersebut adalah sebuah parabola raksasa dengan lebar atau diameter sebesar gedung bertingkat puluhan. Ada juga scene dimana salah satu mutan berlatih terbang di parabola tersebut.

Parabola sebesar di film X-Men itu paling tidak untuk teleskop radio. Saya jadi keingat dan agak nostalgic dengan teleskop radio saya dulu. Sudah hampir lima tahun gak berurusan dengan teleskop radio jadi berasa kangen. Masih menjadi mimpi saya untuk ikut membangun teleskop radio besar di Indonesia. Apakah ini hanya sekedar mimpi saja, saya bertanya pada diri sendiri.  🙁

Gerhana Matahari Total 2016 : Lihat Langsung atau Tidak Langsung?

Gerhana matahari total 2016 telah lewat, banyak dari kita yang mengamatinya, baik langsung atau tidak langsung, dan ada yang melewatkannya begitu saja.

Bagi yang mengamatinya, pengalaman melihat fenomena ini akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Tanya saja pada orang yang mengalamai masa gerhana tahun 83, pasti bisa menceritakan dengan detail.

Mengamati langsung disini berarti menuju ke tempat pengamatan yang dilewati gerhana, baik daerah yang mendapat gerhana total atau daerah yang hanya mendapat gerhana sebagian. Sedangkan mengamati tidak langsung disini berarti mengamati dari media televisi atau streaming online.

Lalu, enak mengamati langsung atau tidak langsung?. Jawabannya tergantung definisi enak. Definisi bagi setiap orang bisa berbeda.

Bagi sebagian orang, mengamati langsung lebih menantang dan lebih merasakan feel-nya. Tantangannya dimulai sejak kita mempersiapkan segala sesuatunya, mulai lokasi, arah pandang langit yang bebas dari tutupan benda sekitar, peralatan, sekenario pengamatan, finansial, akomodasi, kesehatan, dll.

Tantangan ini sangat menarik. Ada traveler bilang yang menarik dari traveling adalah menyiapkan itinerary-nya, maka mengamati fenomena langit seperti gerhana ini sama seperti traveler plus nilai tambah berupa fenomena yang langka. Feel booster-nya dapat.

Bagi sebagian orang yang lain, mengamati tidak langung mungkin lebih enak. Tidak perlu ribet menyiapkan segala keperluan sampai capek-capek ke tempat pengamatan. Cukup melihat televisi atau streaming di internet sudah mendapatkan gambarnya.

Gak enaknya ya sering disisipi iklan atau koneksi internet yang tidak stabil. Gambar yang kita lihat juga akan tergantung sama orang yang berada di balik kamera dan editor konten dari media yang kita gunakan.

Jadi mau lihat langung atau tidak langsung, silahkan pilih masing-msaing. Semua ada kelebihan dan kekurangan, tergantung preferensi masing-masing. Yang perlu dicatat, tanpa orang yang mengamati langsung, kita tidak dapat melihat secara tidak langsung.

Philae: Halo Bumi, Saya Telah Sampai dan Mendarat di Permukaan Comet Dengan Selamat

Kira-kira begitu kali percakapan pembuka antara Philae dengan ruang kontrol ESA di Bumi setelah berhasil mendarat di permukaan Comet 67P .

[xyz-ihs snippet=”philae-landing-animation-esa”]
Video animation of Philae landing on Comet 67P. Credit: ESA

Philae adalah delegasi manusia pertama yang berkunjung ke sebuah komet dan mendarat di permukaanya. Dia membawa misi untuk mempelajari asal usul tata surya  Dia melakukan perjalanan yang sangat panjang dan lama. Dia menghabiskan perjalanan kurang lebih sepuluh tahun untuk sampai di Comet 67P. Perjalanan yang pendek saja kita kadang tersesat, apalagi perjalanan sepanjang dan selama itu. Tanpa perhitungan yang teliti dan pengawasan yang terus menerus, bisa jadi Rosetta (kendaraan philae) bisa tersesat ntah dimana.

Peta Perjalanan Philae dan Rosetta Menuju Comet P67. Sumber: storiesbywilliams.com
Peta Perjalanan Philae dan Rosetta Menuju Comet P67. Sumber: storiesbywilliams.com

Tantangan yang dihadapi Rosetta adalah dia harus mendatangi suatu benda dimana bendanya sendiri juga bergerak. Kalau Rosetta punya bahan bakar yang tidak terbatas atau bisa terbang secepat kilat sih gak masalah, yang jadi masalah adalah rosetta juga memiliki keterbatasan kecepatan dan bahan bakar, selain itu rosetta juga disetir oleh supir yang ada di Bumi yang memiliki response delay.

Response delay ini gambarannya misalnya kita ingin menyuruh rosetta geser dikit karna agak salah jalur. Nah, perintah nyuruh geser ini harus dikirim beberapa waktu sebelumnya. Setidaknya ada beberapa saat jeda sebelum rosetta bertindak sesuai dengan yang kita perintahkan di Bumi.

Agar tidak sering gesar-geser posisi berarti kita harus betul-betul cermat menghitung lintasannya. Kita juga harus cermat menghitung lintasan target. Setelah itu ditentukan pula lokasi pencegatan cometnya.

Dari gambar lintasan diatas, rosetta butuh ancang-ancang sampai empat kali berputar di sekitar orbit Bumi sebelum loncat ke Comet target. Kalau loncatannya gak pas bisa gak nyampai target. Misalnya  terlalu kenceng bisa kelewat atau terlalu lemah jadi gak sampai target.

Inilah menariknya mempelajari trayektori atau lintasan benda di luar angkasa… 😀