Category Archives: Astronomi

Artikel Tentang Gerhana Bulan Total (GBT) 8 Oktober 2014

Artikel tentang Gerhana Bulan Total oleh Dr. Moedji Raharto, Kelompok Keahlian Astronomi dan Peneliti Observatorium Bosscha. Gerhana ini akan berlangsung esok hari tanggal 8 Oktober 2014. Sebagian wilayah Indonesia bisa menyaksikannya. Berikut artikel lengkapnya:

Awal Ramadhan dan Syawal 1435 H/ 2014 M

Dalam postingan ini saya ingin share tulisan dari Dosen saya, Dr. Moedji Raharto, tentang Awal Ramadhan dan Syawal 1435 H/ 2014 M. Semoga bermanfaat…

Untuk ketetapan puasa dan lebarannya nanti, kita tunggu saja hasil keputusan sidang itsbat oleh pemerintah. Biasanya akan ada juga streaming pengamatan hilal dari Kemkominfo atau Observatorium Bosscha. Kita tunggu saja pengumuman resminya.

Presentasi Menarik dari Dr. George Djorgovski: Big Data Science in the 21st Century: Lessons and Experiences from Astronomy

Ada presentasi menarik yang disampaikan oleh Dr. George Djorgovski dari Caltech tentang fenomena Big Data yang juga terjadi di Astronomi. Bagaimana tantangan yang dihadapi oleh astronom sekarang, terutama di negara maju yang memiliki fasilitas instrument yang lengkap. Dengan fasilitas instrument itu, data dengan cepat dan besar diproduksi secara massive sehingga kita menjadi kelimpungan menganalisis data yang datang begitu cepat dan besar tanpa sempat menganalisis data yang sudah ada.

Kalau dulu orang yang punya data bisa mengerjakan pekerjaan science, sekarang data begitu membludak dan sebagian besar tersedia secara gratis di internet. Karna banyaknya data tersebut, para ilmuan membagi data tersebut di internet agar orang juga bisa ikut membantu menganalisis. Banyak pekerjaan Tugas Akhir atau Skripsi mahasiswa Astronomi yang melakukan analisis terhadap data-data dari instrument luar yang memang sangat banyak sekali tersedia.

Yang menarik bagi saya adalah tentang fenomena membludaknya data ini dan perubahan paradigma pendekatan sains dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ilmu dasar. Kalau dulu orang menjawab pertanyaan-pertanyaan sains dengan Experiment dan Theory, sekarang sudah muncul Pendekatan Komputasi atau simulasi, dan kemudian muncul lagi pendekatan Data atau Data Driven Paradigm (menurut presentasi ini). Pendekatan data ini secara garis  besar ingin menemukan pengetahuan baru dari sekumpulan data yang tersedia atau dalam bahasa lain yaitu Knowledge Discovery on Data (KDD).

Berikut video secara lengkap Presentasi Dr. George Djorgovski

Topologi Jaringan Komputer dan Teleskop Radio

Saya jadi teringat kembali dengan topologi interferometer teleskop radio yang saya dulu pernah bingung memikirkannya. Sebenarnya sekarang juga masih bingung dengan pengaturan sinyal antar parabola yang digunakan secara bersama untuk mengamati objek yang sama di langit. Karena sinyal dari masing-masing antena harus disinkronkan atau dalam bahasa fisikanya di korelasikan, yang pakai ditransformasi pakai transformasi fourier dan teman-temannya itu.

O iya, saya tadi teringat topologi jaringan teleskop radio sesaat setelah saya membaca topologi jaringan komputer. Masing-masing perlu diberi identitas dan diatur agar bisa saling berkomunikasi. Di titik penghubungnya juga harus diatur kemana arah paket data berjalan. Dibuat sub-sub jaringan agar memudahkan pengatururan dan administrasi.

Desain LOFAR termasuk Irlandia. sumber:http://www.siliconrepublic.com/innovation/item/27211-dermot-desmond-invests-in-r
Desain LOFAR termasuk Irlandia. sumber:http://www.siliconrepublic.com/innovation/item/27211-dermot-desmond-invests-in-r

Eropa juga sedang mengembangkan ratusan hingga ribuan node antena sebagai teleskop radio yang disebar di beberapa negara membentuk pola tertentu. Project teleskop radio ini diberi nama LOFAR atau Low Frequency Array. Mereka menggunakan jaringan ethernet 10 Gigabit untuk menghubungkan antar titik pengamatan dengan pusat pemrosesan sinyal.

Gamabar disamping meunjukkan lokasi titik teleskop LOFAR termasuk Irlandia. Sepertinya Irlandia baru bergabung dengan konsorsium ini. Karna sebelumnya namanya hanya LOFAR. Tapi kalau yang ini jadi i-LOFAR. Indonesia kapan bergabung konsorsium project sains seperti ini ya. hmmm..

Website LOFAR : http://www.lofar.org

Mengurangi Polusi Cahaya Dari Aksi Mitigasi Perubahan Iklim

Polusi cahaya adalah masalah utama yang dihadapi semua astronom di seluruh dunia. Cahaya-cahaya berlebih dari lampu-lampu buatan yang menerangi langit menjadikan bintang-bintang yang aslinya sudah redup semakin kalah dengan cahaya dari lampu buatan.

Dalam kaitannya dengan perubahan iklim, ada aktifitas yang menjadi aksi mitigasi perubahan iklim, yaitu green energy. Energi hijau atau pemanfaatan energi dari sumber ramah lingkungan dan dengan cara peningkatan efisiensi, secara tidak langsung juga mendukung penurunan polusi cahaya.

Lalu, pada bagian mananya yang menguntungkan pengurangan polusi cahaya?.

Jawabannya adalah bagian efisiensi.

Efisiensi energi dalam penggunaan lampu jalan, lampu pekarangan rumah, dan lampu papan reklame sangat berpengaruh besar dalam mengurangi polusi cahaya. Penggunaan lampu yang tepat waktu, Tepat Guna dan tepat arah juga sangat mempengaruhi efisiensi dalam penggunaan energi.

Tepat Waktu artinya lampu-lampu tersebut dinyalakan atau dioperasikan pada saat-saat  yang memang dibutuhkan saja. Penggunaan lampu luar ruangan semalaman tentu akan membuang-buang energi dan tidak efisien. Seperti cerita teman yang pernah tinggal di Melbourne, disana kalau malam jarang ada lampu rumah di luar yang nyala. Lampu-lampunya sudah otomatis. Ketika tidak ada aktifitas orang, maka lampu otomatis akan mati.

Tepat Guna memberikan efisiensi penggunaan energi yang disesuaikan dengan kebutuhan pencahayaan. Jalan yang kecil tentu saja tidak perlu diberikan lampu besar dengan daya yang besar pula.

Tepat Arah artinya arah pencahayaan disesuaikan dengan tempat yang benar-benar membutuhkan cahaya. Lampu jalan tentu tidak akan gunanya jika menggunakan lampu bulat yang sebagian besar cahayanya terbuang keatas. Yang paling bagus adalah semua cahaya diarahkan kebawah kearah tanah, tidak ke muka orang atau malah ke langit.

Penggunaan energi yang efisien tentu akan meringankan kerja pembangkit listrik yang akan berpengaruh pula terhadap penghematan atau penurunan emisi CO2 yang merupakan salah satu gas pembentuk gas rumah kaca. Efisiensi dengan cara ini juga bisa mengurangi polusi cahaya.